Pagi di Puncak merekah pelan seperti kelopak bunga yang enggan terburu-buru. Kabut yang semalam tebal kini menggantung tipis di antara lembah, perlahan tersibak oleh cahaya matahari yang hangat. Udara masih dingin, tapi tidak terlalu menggigit—justru menyegarkan. Di teras vila, Zahra duduk mengenakan cardigan rajut pemberian ibu Arvin yang kebesaran di tubuhnya. Kedua tangannya memeluk cangkir s**u cokelat hangat, uapnya naik tipis menyentuh wajahnya. Arvin keluar dari dapur kecil membawa dua piring sarapan. “Aku resmi naik pangkat jadi suami siaga sekaligus chef pribadi,” katanya ringan. Zahra tersenyum, matanya berbinar. “Aku dan si baby nggak bakalan sanggup menggajimu, Mas. Gimana ini?” tanya Zahra, pura-pura panik. Arvin meletakkan piring, lalu membungkuk mencium puncak kepalany

