Pagi itu ruang tahanan sementara di belakang gedung pengadilan terasa pengap. Lampu neon di langit-langit menyala pucat, membuat bayangan besi jeruji tampak lebih dingin dari biasanya. Nico duduk di bangku panjang dari beton dengan kedua siku bertumpu di lutut. Tangannya saling menggenggam erat, seolah mencoba menahan sesuatu yang terus runtuh di dalam dirinya. Beberapa jam sebelumnya, hakim telah membacakan putusan. Hukumannya berat. Lebih berat dari yang ia bayangkan. Namun yang paling menyakitkan bukanlah angka tahun yang disebutkan di ruang sidang. Yang paling menyakitkan adalah cara dunia memandangnya sekarang. Seorang petugas tahanan berjalan melewati lorong sempit itu sambil membawa beberapa koran pagi. Ia berhenti di depan sel Nico sebentar. Pria itu menatapnya dengan ekspr

