Bab 44

1764 Words

Dua hari berikutnya berlalu dengan tenang. Namun bagi Zahra, ketenangan itu terasa sedikit janggal. Sudah dua hari Arvin hampir tidak meninggalkan rumah. Pria itu duduk di sofa ruang keluarga dengan laptop terbuka di pangkuannya. Bukan untuk bekerja serius, hanya sesekali memeriksa pesan dari timnya. Ia mengangkat pandangannya ke arah Zahra yang sedang berjalan perlahan dari dapur sambil membawa gelas air putih dan sebelah lagi memegang perutnya yang besar. Perutnya membulat penuh, membuat setiap langkahnya harus lebih hati-hati. Arvin langsung menutup laptop ketika melihat istrinya. “Pelan-pelan, sayang.” Ia bangkit dan menghampiri, tangannya refleks memegang lengan sang istri. “Kenapa nggak panggil aku saja kalau mau ambil minum?” Zahra menatapnya dengan ekspresi geli. “Aku masih

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD