Langit sore perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan saat sepeda motor Gilang meninggalkan halaman rumah. Cici sempat melambaikan tangan, wajahnya masih dihiasi senyum lebar yang sulit disembunyikan. Zahra membalas dengan lambaian hangat, sementara Arvin berdiri di sampingnya, tangan satu dimasukkan ke saku celana. Gerbang tertutup kembali. Suara mesin motor menghilang. Dan rumah itu kembali sunyi. Namun kali ini, sunyinya berbeda. Ada sisa kehangatan yang tertinggal, seperti gema tawa yang belum benar-benar hilang. Zahra masih berdiri di tempatnya beberapa detik, menatap ke arah jalan kosong di depan rumah. Senyumnya perlahan berubah menjadi lebih lembut. “Senang banget ya lihat mereka,” gumamnya pelan. Arvin melirik ke arah istrinya. “Iya.” Mereka berjalan kembali ke teras.

