Malik tidak tenang, didekapnya tas berisi uang puluhan juta sebagai yang tersisa dari kekayaannya itu. Dia melihat-lihat mana tahu ada penginapan murah yang ada disitu. “Disini, Pak. Penginapannya murah dan bersih!” kata sopir itu menghentikan mobil di depan sebuah losmen. Malik mengernyit, penampakan lingkungan losmen itu terlihat kumuh di matanya, padahal memang bersih dan rapi bagi orang lain. “Kau pikir aku ini kucing pasar, hah! Tempat macam apa ini? Ini lebih mirip kandang babi!” bentak Malik tidak suka. Sopir itu menghembus pelan, mencoba untuk tidak terpancing emosi dengan sikap sombong Malik. Tangannya menggenggam kemudi dengan erat menahan kemarahannya. “Cari yang lebih bagus! Kau pikir aku ini orang kampungan macam kalian!” gerutu Malik. “Kau sopir taksi rendahan harusnya

