Ryujin yang duduk di sofa awalnya hanya memperhatikan dengan setengah fokus. Di hadapannya, Jasmine berdiri sambil berpegangan pada sisi meja kecil, wajahnya tampak serius, alisnya sedikit berkerut seolah sedang mengumpulkan keberanian. “Pelan-pelan ya, Sayang,” ujar Ryujin tanpa berniat apa-apa, lebih seperti kebiasaan. Namun kemudian, tangan kecil itu melepaskan pegangan. Ryujin langsung menegakkan punggungnya. Matanya membesar, jantungnya berdetak lebih cepat. Jasmine berdiri sendiri. Sedetik. Dua detik. “Jasmine?” panggil Ryujin pelan, takut suaranya membuat konsentrasi putrinya buyar. Jasmine menggerakkan satu kaki ke depan. Ryujin refleks berdiri setengah dari sofanya, kedua tangannya terangkat, siap menangkap kapan saja. “Ayo… ayo… Mama di sini.” Langkah pertama itu goyah, ta

