JULIAN 86

2828 Words

Julian terdiam tepat di depan pondok itu. Bukan karena takut. Bukan karena ragu. Melainkan karena moncong pistol yang kini diarahkan lurus ke dadanya, hanya berjarak beberapa meter, dipegang oleh tangan tua yang masih stabil—terlalu stabil untuk ukuran lelaki seusia itu. Yokinawa berdiri di ambang pintu pondok, setengah tubuhnya tertutup bayangan. Rambutnya yang memutih tersisir rapi, wajahnya keras, garis-garis usia terlihat jelas namun sorot matanya masih tajam, licik, dan penuh perhitungan. Tangannya tidak gemetar sedikit pun saat mengokang pistol itu. “Berhenti di situ, Julian,” suara Yokinawa rendah, berat, namun penuh ejekan. “Satu langkah lagi, aku tembak.” Hutan seakan membeku. Anak buah Julian yang bersembunyi di balik pepohonan langsung menegang. Beberapa di antaranya refl

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD