Julian 114

970 Words

Pagi datang pelan-pelan, tidak terburu-buru, seolah tahu ini hari Minggu. Cahaya matahari menyelinap lewat celah tirai kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan menyentuh ujung ranjang. Udara terasa lebih ringan dibanding hari-hari kerja. Tidak ada alarm yang hberbunyi nyaring, tidak ada notifikasi rapat yang harus segera dibuka. Ryujin terbangun lebih dulu. Ia membuka mata perlahan, menyesuaikan diri dengan terang yang mulai memenuhi kamar. Di sampingnya, Julian masih terlelap. Wajah suaminya terlihat lebih tenang dari biasanya, tidak ada kerutan di dahi seperti hari-hari sibuk. Nafasnya teratur, satu tangannya terentang, hampir menyentuh Ryujin. Ryujin bangun setengah duduk. Tubuhnya masih terasa sedikit pegal setelah malam yang terputus-putus karena Jasmine, tapi hatinya hangat. Ia meno

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD