Julian mengetahui kabar itu pada pagi buta, tepat saat Ryujin sedang tertidur dengan posisi meringkuk sambil memeluk bantal kecil yang selalu dibawanya sejak hamil. Di meja panjang dalam markas rahasianya di Indonesia—ruangan bawah tanah yang tidak terhubung jaringan internet, tanpa jendela sama sekali, dan hanya diterangi lampu-lampu putih redup—Julian berdiri sambil menatap laporan yang baru saja dilaporkan oleh tangan kanannya, Hugo. Hugo menelan ludah. “Boss... Maverick sudah mulai mengambil beberapa anak buah kita. Anak-anak terbaikmu.” Julian mengepalkan rahang. “Siapa saja?” Hugo menyebut nama-nama yang tidak pernah Julian bayangkan akan berkhianat. Orang-orang yang dulu Julian pilih langsung dari jalanan. Anak-anak yang dia selamatkan dari kemiskinan, diberi makanan, tempat ti

