Ryujin memandangi Julian dengan mata yang dipenuhi kecemasan yang sulit ia sembunyikan lagi. Sejak kejadian di apartemen kemarin—sejak Luna menangis dan dibawa pergi oleh Farah—Ryujin terus merasa berada di ujung tanduk. Ia tidak bodoh. Ia tahu Luna sangat mencintai Julian, bahkan lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan. Ryujin juga tahu bahwa Luna bukan tipe yang menyerah begitu saja. Dan malam itu, ketika mereka berdua berada di kamar Julian, Ryujin tak mampu lagi menahan kegelisahan yang berkecamuk di dadanya. Ia mendekat, menggenggam lengan Julian, memaksa pria itu menatap matanya. “Julian… aku mau kamu menikahi aku secepatnya.” Suasana kamar yang tenang berubah menjadi tegang dalam sekejap. Ryujin menatap Julian dengan sorot mata penuh tekad, namun di balik itu jelas ada rasa

