Julian 176

2895 Words

Dari kejauhan, Arman duduk di dalam mobilnya dengan mesin mati. Kacanya sedikit terbuka, cukup untuk melihat rumah itu tanpa terlalu mencolok. Tangahnnya bertumpu di setir, jari-jarinya mengetuk pelan, bukan karena bosan—lebih karena pikirannya sedang berisik. Rumah Julian terlihat biasa saja dari luar. Tenang. Rapi. Tidak ada yang tampak seperti “benteng”. Tapi justru ketenangan itu yang membuat Arman merasa seolah-olah sedang ditatap balik oleh sesuatu yang tidak kelihatan. “Semua orang terlalu membesar-besarkan,” gumamnya, setengah meyakinkan diri sendiri. Ia menatap lebih lama. Lampu ruang tengah menyala. Bayangan orang bergerak terlihat lewat tirai. Sesekali, pintu terbuka sebentar lalu tertutup lagi. Arman memiringkan kepala, mencoba mengenali siapa saja yang ada di dalam. Lalu i

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD