96~BC

1618 Words

Briana tersenyum miris melihat sekat jeruji yang membatasi pertemuannya dengan Kiano. Sama persis ketika Ciara berkunjung untuk menemuinya. Namun, suasananya jauh berbeda ketika ia bertemu dengan Desty. Mereka bicara di ruang khusus, tanpa jeruji, tanpa tatapan penjaga yang mengintai di ujung ruang. Percakapan mengalir lebih tenang di antara mereka. Dan untuk sesaat, Briana merasa seperti manusia biasa lagi, bukan tahanan yang dicurigai. Sungguh, seperti inilah kesenjangan yang nyata antara orang yang benar-benar memiliki kuasa kuasa dan yang tidak. “Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Kiano pelan sambil mencondongkan tubuhnya. “Kenapa kamu nggak pernah datang nengok aku?” Briana bertanya balik dengan wajah dan intonasi datar. “Dua kali sidang, tapi batang hidungmu itu nggak pernah mun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD