141~BC

1412 Words

“Di sebelah kanan itu, rumah saya.” Felix menunjuk rumah dua tingkat yang berseberangan dengan lajur jalan mereka. Lampu terasnya menyala hangat, membuat rumah itu tampak ramah disinggahi. “Silakan kalau mau mampir, rumah saya terbuka untuk siapa aja.” Dinda mengangguk sopan, sementara Ira tersenyum kecil dari kursi belakang sambil menatap rumah tersebut. Sejak meninggalkan hotel, suasana di dalam mobil tidak pernah benar-benar hening. Baik Felix maupun Dinda, selalu punya cara memecah kecanggungan. Entah lewat gurauan receh atau cerita spontan tentang kegiatan mereka. “Macam penampungan gitu, Pak?” ucap Dinda meringis lebar, “terbuka buat siapa aja.” Felix terkekeh. “Kalau kamu mau ditampung, boleh.” “Ahhh …” Dinda kembali tertawa untuk ke sekian kalinya. Jika hanya melihat sekila

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD