Aku dan Mas Arayan kini berada di sebuah cafe bergaya eropa yang terletak di tengah kota Jogja. Dia berkata ingin bertemu dengan seseorang yang bisa menjelaskan semua masalah keluarganya. Mungkin orang yang masih kami tunggu adalah si pengirim pesan misterius. Beberapa kali menelpon namun tidak aku angkat, juga mengirim pesan yang selalu aku hapus tanpa k*****a lebih dulu. “Harusnya dia sampai lebih dulu. Kenapa malah kita yang menunggunya?!” aku sudah bosan menunggu lebih dari setengah jam. Sementara yang ditunggu tak kunjung menampakan diri. “Katanya sudah ada di sini tapi belum bisa keluar.” “Maksudnya?” Mas Arayan menunjukkan layar ponselku, ternyata ada pesan baru. Isi pesannya seperti yang dikatakan suamiku. “Jangan-jangan orang itu narapidana yang kabur dari penjara! Duh, serem

