Keesokan harinya, Shenina yang lebih dulu menghubungi Joceline. Pesannya singkat, disusun dengan pilihan kata yang lembut dan manis, nyaris tidak meninggalkan ruang untuk ditolak. Makan siang bareng aku, Kak Jocé? Ada yang ingin aku bicarakan. Penting. Joceline membaca pesan itu cukup lama, menatap layar ponselnya tanpa ekspresi, sebelum akhirnya membalas dengan satu kata saja. Mereka bertemu di sebuah restoran kecil di pusat kota, tempat yang jelas dipilih dengan penuh pertimbangan oleh Shenina. Tidak terlalu mewah untuk menarik perhatian, tidak pula terlalu ramai untuk menciptakan kebisingan yang tidak terkendali. Tempat yang aman. Tempat yang mudah dikontrol. Shenina sudah duduk lebih dulu ketika Joceline datang. Gaunnya sederhana, jatuh rapi di tubuhnya, rambutnya tergerai deng

