Jeremiah tidak bergeming, tatapannya yang tajam seolah sedang membedah setiap ekspresi di wajah putrinya. Ia menarik napas berat, mencoba menggali ingatan tentang siapa pria yang paling dekat dengan Joceline selama ini. Hingga satu nama muncul di benaknya. “Maxime,” cetus Jeremiah dengan nada penuh tuntutan. “Apakah dia, Jo? Dia pria yang sudah menghamili kamu? Katakan, apa Maxime orangnya?!” Joceline tertegun sesaat, namun ia segera menguasai diri. Ia tidak ingin mengiyakan karena jelas bukan Maxime orangnya. Namun, ia tahu Ayahnya tidak akan menyerah begitu saja sebelum mendapat jawaban ysng ia inginkan. Sehingga, dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Joceline bangkit sedikit tegak. Ia mengabaikan rasa mual yang kembali menyapa perutnya dan menatap ayahnya dengan satu-satunya keberan

