57. Kehilangan & Penyesalan

1143 Words

Setelah dokter berlalu, seorang perawat mendekati Maxime dengan langkah pelan. “Tuan... jika Anda ingin memberikan penghormatan terakhir sebelum kami memindahkan beliau ke ruang jenazah, Anda diperbolehkan masuk sekarang.” ​Maxime mengangguk lemah. Kakinya terasa seperti terbuat dari timah—berat dan sulit digerakkan. Setiap langkah menuju pintu itu terasa seperti ia sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri. ​Begitu pintu terbuka, hawa dingin dari AC sentral langsung menyergap kulitnya. Ruangan itu begitu sunyi, hanya ada suara dengung rendah dari peralatan medis yang sudah tidak lagi berfungsi. Di tengah ruangan, di atas meja operasi yang dingin, tubuh itu terbaring. ​Maxime mendekat dengan napas tertahan. Perawat itu dengan perlahan membuka kain yang menutupi bagian wajah. ​Deg.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD