Alunan musik romantis perlahan memudar, namun sisa-sisa tatapan intens dari Aksara masih terasa di kulit Joceline. Setelah beberapa menit yang terasa begitu lama sekaligus memuaskan di lantai dansa, mereka berhenti tepat saat lagu berakhir. Aksara melepaskan pinggang Joceline dengan sangat sopan, namun tangannya sempat memberikan usapan halus di punggung tangan wanita itu. “You’re a fast learner, Jo. Or maybe, we just have a great chemistry,” bisik Aksara dengan senyum yang sanggup meluluhkan pertahanan siapa pun. Joceline hanya tertawa kecil, sebuah tawa yang sengaja ia keraskan agar bisa didengar oleh telinga yang sedari tadi terus mengawasi mereka. “Maybe, it’s both, Aksara. Thank you for the dance.” Setelahnya, Joceline berpamitan sebentar untuk menuju toilet. Ia melangkah menjau

