Cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah gorden membuat Joceline sedikit menyipitkan mata. Kondisinya sudah jauh lebih stabil, meski rasa perih di ulu hatinya masih sesekali datang seperti tusukan jarum. Ia menoleh ke samping, menemukan Nathaniel sedang duduk di sofa sambil fokus pada laptopnya. Nathaniel menyadari pergerakan itu. Ia segera menutup laptop, lalu berjalan menghampiri ranjang Joceline dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah-olah dia tidak baru saja terjaga sepanjang malam hanya untuk mengecek napas istrinya. “Baru bangun? Jangan banyak gerak dulu, Jo.” Nathaniel mengambil mangkuk bubur di meja nakas yang baru saja dikirimkan oleh perawat. “Nath, aku bisa sendiri—” “Diam, Jo. Jangan membantah,” potong Nathaniel cepat sambil mengarahkan sendok ke depan bibir Joceline.

