Sentuhan Leonel di kepalanya membuat Tiana sedikit lebih tenang. Ia masih merasa bersalah, tapi perasaan itu tidak lagi menekan seperti tadi. Dalam pelukan itu, ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang sejak tadi dipendam. Tiana mengangkat wajahnya sedikit, dagunya masih bertumpu di d**a Leonel. Ia menatap suaminya dari bawah dengan ekspresi polos, membuat Leonel terdiam sesaat tanpa sadar. "Tapi, Leon..." gumam Tiana pelan, tangannya memainkan ujung kerah jubah mandi Leonel. "Hm?" Leonel menyahut, jemarinya membelai rambut Tiana yang masih sedikit lembap. "Janji ya, jangan galak-galak lagi," Tiana mengerucutkan bibirnya, sebuah ekspresi menggemaskan yang muncul secara alami saat ia mulai merasa manja. "Kalau kamu kasar dan teriak-teriak kayak semalam, aku beneran takut.

