Suami siaga [2]

1710 Words

Hari berikutnya tanpa Athaar yang masih tugas, aku bangun subuh dengan perasaan waswas, berpikir akan mual-mual, pusing hingga lemas seperti kemarin-kemarin. Namun, sampai jam tujuh bahkan aku bisa minum segelas susuu hamilnya dengan aman. Aku belum mual sama sekali. Aku memutuskan untuk menemani ibu Anggita kembali di ruko. Aku tahu, meski Athaar sedang bertugas sebagai pilot dan harus meninggalkanku beberapa hari, aku tak pernah benar-benar merasa sendirian. Ada Ibu yang selalu perhatian, dan Althaf, adik iparku yang selalu siap membantu. Athaar bahkan menitipkanku padanya secara khusus. “Bagaimana hari ini, sayang?” tanya Ibu sambil menutup buka besar catatan harian jumlah pesanan katering. Ibu memang lebih suka mencatat manual, karena tidak bisa menggunakan laptop. “Kayaknya hari

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD