~Author POV Saat Athaar di rumah, Rara lebih banyak bersamanya kecuali sudah menangis tanda dia butuh Dillah. Pagi ini, dua orang favoritnya sedang bersama, Rara anteng di lekukan tangan ayahnya, sementara Athaar duduk bersila sambil membaca ayat-ayat suci. Rara selalu anteng, mendengarkan bahkan sering sampai tertidur. Dillah meninggalkan keduanya, membawa keranjang baju kotor ke ruang cuci. Mulai memilih-milih, khusus baju Rara biasanya ia cuci sendiri pakai tangan, dipisah dengan pakaian orang dewasa sebab kulitnya masih sensitif. Membiarkan mesin cuci bekerja, Dillah menghampiri Ibu, “Teteh Rara sudah bangun?” “Sudah bu, sama Aa.” “Anteng ya?” “Iya, kalau sudah sama Baba, Teteh butuh aku pas haus dan lapar saja.” Dillah menatap Ibu yang tengah mengiris-ngiris bawang, menyiap

