46. Pewaris Baru

1316 Words

Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Langit masih pucat ketika konvoi hitam berhenti di depan gedung De Luca. Logo keluarga itu terpahat besar di fasad marmer, berkilau diterpa cahaya matahari pertama. Maxim turun lebih dulu. Ia selalu turun lebih dulu. Tatapannya menyapu sekitar dengan naluri yang tak pernah benar-benar tidur. Dua pria pengawal membuka pintu belakang. Gwen melangkah keluar. Hari ini ia tidak mengenakan gaun lembut atau warna pastel. Setelan putih gading dengan potongan tegas membingkai tubuhnya. Rambutnya ditata rapi, ekspresinya tenang. Bukan istri seseorang. Hari ini ia adalah pewaris. Maxim menatapnya sesaat lebih lama dari perlu. “Dua jam,” ia mengingatkan pelan. Gwen menoleh, sudut bibirnya terangkat tipis. “Kau terdengar seperti papaku.” “Dan kau terde

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD