Gudang itu perlahan kosong. Mesin kendaraan menyala satu per satu. Pintu besi ditutup kembali. Debu beterbangan tipis di udara malam. Namun tidak ada yang benar-benar pergi dengan damai. Di dalam mobil, Gwen duduk di samping Maxim. Tangannya masih sedikit gemetar, bukan karena takut karena adrenalin belum sepenuhnya turun. Maxim menggenggam tangannya erat. “Kau terluka?” suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang ditahan. “Tidak,” jawab Gwen lembut. “Mereka tidak menyentuhku.” Tatapan Maxim berubah. Bukan lega sepenuhnya. Dingin. Karena fakta bahwa mereka bisa saja menyentuhnya sudah cukup untuk membakar sesuatu dalam dirinya. “Papa benar,” katanya pelan. “Kita biarkan mereka merasa menang.” Gwen menoleh. “Dan sekarang?” Maxim menatap jalan gelap di depan mereka. “Sekaran

