Keheningan di ruang ICU itu terasa begitu pekat, hanya dipecah oleh suara mekanis ventilator yang memompa udara ke paru-paru Vanya. Di sisi ranjang, Bumi duduk seperti raga tanpa jiwa. Matanya yang merah tak sedetik pun beralih dari wajah pucat wanita yang kini dikelilingi berbagai selang dan kabel monitor. Tiga hari Vanya koma. Tiga hari pula Bumi berada di ambang kegilaan. Ia tidak peduli pada Alister yang memohon maaf di luar, tidak peduli pada berita kehancuran Melinda dan Erlan yang kini resmi mendekam di balik jeruji besi. Baginya, dunia berhenti berputar di dalam ruangan beraroma desinfektan ini. Tiba-tiba, jemari Vanya yang pucat dan dingin bergerak sedikit. Sangat halus, namun bagi Bumi, itu adalah gempa bumi yang meruntuhkan keputusasaannya. "Vanya?" bisik Bumi, suaranya parau

