Bab 30. Kabar Paling Manis

1626 Words

Jakarta pagi itu diguyur hujan tipis. Di dalam apartemen mewah yang kedap suara, Vanya baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan sisa mual yang menguras tenaganya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, memulas perona pipi lebih tebal agar Bumi tidak melihat wajahnya yang menyerupai mayat hidup. Ia harus melakukan ini. Jika ia ingin mempertahankan bayinya sampai tujuh bulan, ia butuh Bumi sebagai pelindung, bukan sebagai pengawas medis. Ia harus membuat Bumi percaya bahwa ia sehat. Vanya berjalan menuju dapur, tempat Bumi sedang menyiapkan sarapan simpel—roti panggang dan telur mata sapi. Pria itu menoleh, matanya langsung memindai Vanya dari kepala hingga kaki. "Sudah baikan? Tadi malam kamu pucat sekali," tanya Bumi, nada suaranya lembut namun penuh selidik. Vanya memaks

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD