39. Apartemen Arman

1235 Words

Begitu pintu mobil tertutup dan suara klik pengaman sabuk terdengar, suasana langsung berubah canggung. Mobil Arman melaju pelan keluar dari area parkir kantor, sementara Indira duduk kaku seperti patung di kursi penumpang. Tangannya meremas ujung rok, dan tatapannya ke luar jendela tak pernah berpindah sejak tadi. Arman beberapa kali melirik dari sudut mata. Ia menahan diri untuk tidak menggodanya terlalu cepat, meski dalam hati pria itu hampir meledak saking bahagianya karena bisa mengantar pulang istrinya sendiri. Sudah beberapa hari ia menyimpan rindu, dan akhirnya sekarang Indira ada di sampingnya—di dalam mobil yang selama ini ia kendarai sendirian. “Capek kerja?” tanya Arman, memecah keheningan. Indira menoleh sekilas, lalu cepat-cepat menggeleng. “Nggak, Pak.” Jawabannya singka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD