83. Ini Bukanlah Akhir Tapi Awal

1416 Words

Arman dan Indira akhirnya kembali ke kota. Di sampingnya duduk Bik Ningsih, dengan wajah yang sejak tadi tak henti menatap keluar jendela mobil. Jalanan yang semakin ramai, gedung-gedung tinggi yang kembali menyapa, dan hiruk-pikuk kota besar membuat Bik Ningsih seakan kembali ke masa lalu yang lama ia tinggalkan. Mobil berhenti tepat di depan rumah utama keluarga Akbar. Rumah besar itu berdiri megah, meski jelas terlihat bekas-bekas ketidakpedulian penghuninya selama dua tahun terakhir. Cat di beberapa sudut mulai kusam, taman tak terawat sempurna, namun aura rumah itu masih sama—hangat, kokoh, dan penuh kenangan. Bik Ningsih turun perlahan. Matanya langsung berkaca-kaca. “Ya Allah,” gumamnya lirih. Tangannya bergetar saat menyentuh pagar besi yang dulu sering ia buka-tutup setiap hari

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD