Arkan baru saja keluar dari dalam lift saat berpapasan dengan Lidya, sekretaris Arman. “Pak Arkan?” sambut Lidya ramah. Arkan mengangguk kecil. “Paman Pram ada?” “Ada, Pak. Beliau di ruangannya.” jawab Lidya cepat, kemudian ia menambahkan—nada suaranya berubah sedikit lebih hati-hati, “Mau saya antar?” “Boleh.” Mereka berjalan beriringan melewati koridor. Suasana kantor begitu rapi, formal namun nyaman. Sebelum sampai di depan ruang pimpinan, Lidya menoleh sedikit. “Pak Arkan, boleh saya tanya?” Arkan menoleh. “Apa?” “Pak Arman… kira-kira masih lama di luar negeri?” tanyanya dengan suara pelan sekali, seolah itu rahasia besar. Arkan langsung mendengus pendek. “Ngapain kamu tanya?” Lidya tersenyum kecut, tapi tetap berusaha terlihat santai. “Ya… rindu lah saya. Tiga tahun jadi

