31. Keresahan Hati

1343 Words

Arkan mengetukkan ujung jarinya di setir sambil menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Mobil SUV hitam yang ia bawa dari kantor berhenti di depan sebuah hotel yang tak bisa dikatakan besar tapi terlihat cukup nyaman. “Aku bisa gila,” gumam Arkan, mematikan mesin begitu sepi yang menyambutnya. Ia turun sambil memutar leher yang pegal. Menyetir hampir empat jam dari kota ke desa dengan jalan berkelok-kelok membuatnya merasa seperti habis menjalani latihan militer. Tidak ada supir. Tidak ada asisten. Arman menyuruhnya datang sendiri untuk melihat progress proyek mall. Dan itu yang paling membuatnya sebal. Kalau bukan karena status Arman sepupu sekaligus orang yang paling dipercayai Kakek di Wijaya Group, Arkan sudah mengumpat keras-keras dari tadi. Ia masuk ke dalam lobi kecil. A

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD