“Juno jadi datang, Yal?” tanya Mama. Aku juga baru saja tiba di rumah. Pukul 21:37. “Nggak tau, Ma. Nggak Iyal tanya,” tanggapku. Mama mendengus pelan. “Kalau dia masih peduli, dia pasti datang,” ujarku lagi. “Iyal sendiri masih peduli nggak sama Juno?” balas Mama. Aku duduk di kursi makan, meneguk air di gelas yang kugenggam, lalu menatap kursi kosong di sampingku—kursi yang dulu selalu ditempati adikku. “Nggak tau, Ma,” jawabku. Beliau berdiri di belakangku, memelukku di bahu. Sejenak, hanya hening yang menemani kami. “Iyal bersih-bersih sebentar ya, Ma?” ujarku kemudian. “Oke. Mama bikinin bakso kuah mau?” “Mama yang bikin baksonya?” “Iya.” “Mau kalau gitu.” Pukul 21:55, aku berdiri di balkon kamarku, menatap jalanan kompleks yang mulai sepi. Langit gelap, tanpa bintang.

