Hanya mengingat letaknya. Setelah itu kami pindah ke toko sepatu. Aku duduk di sofa kecil. Melihatnya mencoba satu per satu. “Bagus nggak, Nda?” Ia menunjukkan sneakers putih. “Bagus.” Lalu pindah ke sneakers hitam. “Ini?” “Bagus, kayak anak SMA.” Ia tertawa. “Kalau ini?” Cokelat. Aku memicingkan mata. “Kayak om-om.” “Om-om?” “Sugar daddy vibes.” Ia menutup wajah. Aku malah ngakak. “Ya Allah. Tau-taunya sugar daddy!” “Kan seliweran di medsos, Akang,” sahutku. “Jangan dibaca! Masih di bawah umur juga!” Aku makin tergelak. Ia kembali mengambil yang lain. Kali ini sneakers abu tua. “Akang?” “Ya?” “Nda ke toilet bentar ya.” Ia mengangguk. Aku berjalan cepat. Belok. Lalu… berlari kecil ke toko buku. Sambil mengatur napas yang ngos-ngosan, aku mencari rak tadi, dan la

