“Satu lagi, Mang,” ujar Mehdi ke penjual bubur ayam di spot kuliner pagi yang kami singgahi. “Dua, Mang,” sambar Nino. Ia lalu menoleh padaku. “Maneh mau teu?” Aku menggeleng, lalu menyuap lagi lontong sayurku. “Abdi bawa kopi lho. Akang-akang mau?” tanya Tita—istri Nino. Mehdi tentu tak menolak. Ia membuka tasnya, mengeluarkan gelas lipat. Kode minta dipenuhin, lumayan buat sambil jalan nanti. Tita mengisi gelas suaminya dulu, baru berpindah ke gelas Mehdi. “Kang Iyal?” tanyanya padaku. “Nggak, Ta. Thanks,” jawabku. “Iyal nggak minum kopi, Ta,” ujar Nino. “Oh iya. Lupa ih.” Amanda bilang... minggu depan ia dan sahabat-sahabatnya sudah harus mengurus rencana studi, juga sibuk memberi orientasi ke para mahasiswa baru. Jadi... ini adalah akhir pekan terakhir yang bisa mereka isi b

