“Nda?” suara Alya menarik kesadaranku kembali. Aku menoleh. “Dapet dokter nggak lo?” “Iya, dapet.” “Terus kenapa muka lo begitu?” tanya Alya lagi. Aku menghela napas. “Nggak apa-apa.” “Takut? Ya ampun, Nda. Nggak bakal sampai dibongkar kali itu behel lo.” Aku tertawa garing. “Yuklah, makan dulu. Lapar gue,” ajak Alya kemudian. “Gue beli jus alpukat pakai keju aja deh. Nggak bakalan bisa makan kalau begini.” “Kasihan banget sih lo, bestie. Ya sudah, ayo. Yang penting ada yang masuk ke perut lo,” tandas Alya seraya menarikku, membawaku keluar dari ruang kuliah. *** Jam menunjukkan pukul 19.17 saat aku tiba di klinik. Aku melangkah masuk. Ruang tunggu cukup lengang. Hanya ada seorang anak di pojok bermain ditemani ayahnya, dan pasangan yang duduk di sisi lain. Resepsionis me

