BAB 16-2

751 Words

Aku lebih dulu beranjak. Amanda menyusul. Susi membantu melepas hair cap dan apron pasien, lalu membereskan area kerja. Aku menatap layar komputer dan membuka kembali medical record Amanda, sementara ia duduk di kursi seberang. Kini kami berhadapan. Bukan lagi dokter dan pasien di kursi tindakan. Tapi juga bukan dua orang yang terlampau akrab untuk bicara bebas tanpa gugup. Apalagi dengan fakta jika perempuan ini istimewa bagiku. Aku menatap layar sembari berusaha mengatur napas. Jantungku berdegup cepat sekali. Konyol memang. Aku sudah menangani beragam keluhan. Dari mulai pasien anak yang berteriak-teriak takut diterapi, bapak-bapak yang panik setengah mati hanya karena mau dicabut satu gigi, hingga pasien lansia yang bahkan tak ingat kenapa ia datang menemuiku. Tapi malam ini, hanya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD