Tatapanku kembali ke layar, tepat di nama Amanda. Berselang detik, sebuah chat aku terima. Pengirimnya adalah perawat yang duduk di depanku. Susi: Dokter sudah nanya gimana behelnya Kak Amanda pagi ini? Aku menoleh. Saat tatapanku bertemu dengan Susi, ia hanya tersenyum singkat. ‘Iya sih, sekadar nanya ada keluhan atau nggak kan bukan masalah ya?’ Coklat hangat kusesap beberapa kali. Kemudian aku menarik napas dalam. Setelahnya, barulah jemariku bergerak mengetik kata. Arial: Pagi, Nda. Maaf kalau aku ganggu. Gimana kondisi behel kamu? Layar bergeming. Tak ada penanda online di status Amanda. Aku mendengus pelan, layar kukunci, lalu ponsel kuletakkan di meja. Setelahnya, cangkir kuangkat kembali, meneguk minumanku, lalu mencemili trail mix yang memang selalu kubawa. Di tengah kuny

