Di foto itu, mereka duduk bersebelahan, bukan sejajar namun saling bersikuan. Jaraknya dekat. Terlalu dekat untuk sekadar ‘kenal biasa’. Senyum Kang Iyal pun… terlihat natural. Sama sekali tak kaku, apalagi terpaksa. Dadaku kuusap pelan. “Sumpah ih, nggak tau diri banget Kang Iyal. Jelas banget masih bocah begitu kok dipacarin sih?” Aku menghentakkan kaki. Kesal bukan kepayang. Layar ponsel kugeser ke samping lagi. Kali ini... aku mengernyit. “Loh?” Di sana… kini jelas dengan siapa saja makan malam itu berlangsung. Ada dua orang laki-laki lain yang tampak seusia dengan Kang Iyal. Juga... “Papa Ihsan?” Aku syok kembali. Di foto itu, Kang Iyal duduk di berhadapan dengan ayahnya. Sementara dua laki-laki lain mengisi sisi yang menempel dengan dinding. Aku ingat wajah mereka. Keduanya y

