“Woy!” Aku tersentak. Alya memelukku dari balik bahu. “Baru makan lo?” “Mau minum jus aja.” Saat ia hendak duduk di sampingku, aku menggeleng. “Kenapa?” tanyanya bingung. Tatapanku otomatis menoleh ke Kang Iyal yang kini tengah menunggu di konter pengambilan pesanan. “Siapa?” tanya Alya lagi. “Cowok lo?” “Bukan.” “Gebetan?” “Iiih, apaan sih lo?” “Kok cakep banget? Mateng juga kayaknya, Nda.” “Gue cakar lo!” Alya malah ngakak. “Nggak usah emosi gitu dong.” “Sana lo.” “Yakin nggak perlu ditemenin?” “Hmm. Yang ada lo malah resek!” “Cowok lo punya kembaran nggak? Adik? Abang? Asal single gue nggak keberatan PDKT.” “Nggak ada!” “Jangan pelit dong, Nda.” “Sana ih! Tuh jus gue sudah jadi.” “Kenalin gue dulu kek.” “Nggak usah!” Alya beranjak menjauh sambil tergelak. Ia tak m

