BAB 26-2

713 Words

“Waaah. Telurnya jangan kematangan, Ma.” Mama nyaris memekik saat membalas salamku tadi. Justru aroma sedap yang menyapa lebih dulu sejak aku memarkir motor di garasi. “Papa mana, Ma?” tanyaku kemudian. “Mandi,” jawab beliau. “Lepasin ih, Mama mau bergerak susah.” Aku mengecup pipi kanan Mama, baru kemudian melepaskan rengkuhanku di bahunya. Sementara beliau memasukkan bahan-bahan sayur asem ke dalam air mendidih, aku bergeser ke sisi kiri, mencemili sayuran rebus dan sambal yang tersusun rapi di cobek besar. “Aduh,” rintihku saat Mama menggebuk lenganku. “Papa belum nyentuh malah diobok-obok.” “Mama nih, Papa mulu. Papa terus,” sambatku, menggoda. “Kok Iyal pulang cepat? Nggak nge-date dulu sama Amanda?” tanya Mama tanpa menggubris candaanku tadi. “Kan belum jadian, Ma. Ya belum n

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD