Aku terkekeh. Beberapa saat kemudian, tibalah gilirannya. Prosesnya tak lama, dan syukurnya berjalan lancar. Saat petugas mengembalikan paspornya, ia menoleh padaku, tersenyum maksimal sambil menaik-turunkan alis. Aku mengatupkan bibir, menahan gemas. Setelahnya, kami beranjak ke pengambilan bagasi. Aku diam di sampingnya, bermain game di ponsel, sementara ia berdiri dengan punggung yang bersandar di sisi tubuh kananku. “Akang kok bisa sih pergi seminggu cuma bawa ransel doang?” gumamnya. “Ini ranselnya bisa digedin, Nda. Siapa tau tiba-tiba ada jajanan menarik.” “Sedege apa?” “Mmm... lebih gede dari versi backpack ini sih pastinya.” “Nggak jelas ih Akang. Nanya sama Akang yang ada malah makin bingung da.” Aku mencengir singkat. “Itu koper Nda,” ujarku kemudian sambil mendelik ke

