“Ngopi, Yal?” tanya Tante Meta. Aku menggeleng. “Makasih, Tante,” sahutku. “Kang Iyal nggak ngopi, Mi,” timpal Amanda. “Serius?” “Iya, Tante,” sahutku. “Nggak doyan atau nggak cocok?” “Nggak nyaman aja, Tante.” Tante Meta diam, keningnya tampak sedikit mengernyit, mungkin memikirkan maksud kata-kataku. Namun, hening sejenak sejenak itu pecah saat keriuhan dan derap sepatu terdengar kian mendekat. Mereka datang berbarengan, seolah memang disengaja. “Wiiih, Tante bawaannya banyak lagi,” ujar Musa. “Keripik aja. Memang bawanya agak banyak,” tanggap Tante Meta. “Jaga-jaga ketemu bocah kayak lo, Sa,” timpal Amanda. “Masya Allah tabarakallah,” sahut Musa. “Makasih, Tante.” “Ih, bener-bener ini anak nggak ngerti disindir.” Ziva ikut menimpali. “Rezeki nggak boleh ditolak, Kak Ziva.

