BAB 36-2

643 Words

Beberapa saat kemudian, masakanku matang. Bukan sesuatu yang mewah, hanya telur orak-arik yang aku olah dengan potongan terong. Aku mengambil sedikit, kuletakkan di piring kecil, lalu memberikannya ke Om Ian. Beliau mencoba rasanya. Menyuap, mengunyah pelan sambil menatapku lekat. Lucunya, bahkan detik yang bergerak seolah begitu panjang. Hingga.... “Ambilin Papi nasi,” pinta beliau ke sang putri. Aku menghembuskan napas lega. Yang lain tergelak, termasuk Om Ian. Oh, bonusnya... ia mengangkat jempol kanannya. Sarapan berlangsung… namun posisiku masih dibatasi. Tante Meta duduk di samping Amanda. Om Ian di seberangnya. Sementara aku... ujung ke ujung dengan Amanda. “Mau kasian tapi...” gumam Musa, “ah, sudahlah!” “Sa?” “Apa, Dok?” “Sudah pernah kelilipan cast iron?” “Astaghfi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD