Aku berbelok di perempatan. Menuju kawasan kantor hukum Om Ian. Langit benar-benar gelap saat aku sampai. Kantor hukum itu tampak modern, hangat, dan rapi. Stepping membawaku ke lobi. Begitu pintu terbuka, resepsionis langsung mengenaliku dan mempersilakan masuk. Aku berjalan menyusuri koridor, menaiki anak-anak tangga. Kantor itu cukup sepi, beberapa lampu ruangan dan kubikel sudah padam, meski ada juga yang masih menyala. Di sebuah ruang rapat kecil, Papa duduk di satu sisi meja. Om Ian di sisi lain. Dua orang timnya ikut menemani. Ada tumpukan map, laptop terbuka, dan beberapa lembar dokumen yang penuh penanda. “Assalamu’alaikum,” sapaku. “Wa’alaikumussalam,” balas mereka hampir bersamaan. Aku duduk, tepat di samping Papa. Beliau mendekatkan sebotol air mineral. Om Ian tak banya

