“Iya, Dok. Tambal aja,” sahut ibunya. Aku memeriksa bagian lain, menginfokan posisi pada Susi, dan ia mencatatnya. “Ada tiga gigi yang juga mulai bolong nih, Bu,” lanjutku. “Dua atas, dan satu bawah di bagian belakangnya. Masih kecil. Nah yang depan ini sudah gigi tetap.” Ibunya langsung menegang. “Yang mana, Dok?” Aku menunjuk di layar. “Yang tiga ini. Masih bisa ditunggu. Kalau Ibu mau, bisa sekalian ditangani sekarang. Tapi kalau mau nunggu Dokter Husain juga nggak masalah.” Aku menatap Alea lagi. “Yang penting, yang bolong dulu kita benerin ya.” Alea mengangguk. “Sakit nggak, Om?” “Nggak akan sesakit kalau dibiarkan.,” jawabku. “Om pelan-pelan deh. Kalau sakit, Alea angkat tangannya biar Om berhenti dulu. Oke?” Ia mengerjap sejenak. Lalu mengangguk lagi. “Oke, Om.” Aku menar

