Pasangan suami istri di depanku itu saling menoleh. Lalu tergelak bersamaan. “Cerdas!” ujar dr. Irgi. “Yang jelas cerdasnya udah next level sih, Gi. Bukan lagi level nikung sambil ngacak-ngacak steak orang,” sahut dr. April Amanda, Sofi, dan Eldra tergelak lagi. Sementara senyum dr. Irgi seketika berubah menjadi cemberut. “Inget, Yal,” ujar beliau padaku. “Kenapa, Dok?” “Perempuan itu ahli sejarah. Dan ilmunya digunakan nggak hanya pas kita salah. Yang paling sering pas mereka kepingin ribut aja.” “Bisa gitu ya, Dok?” balasku, terkekeh. “Ngerilah. Bisa dibongkar sampai akar-akarnya.” dr. April menyesap minumannya dengan tenang. “Soalnya saya ngicip steaknya pun belum, Yal.” “Boo,” sahut dr. Irgi, terdengar pasrah. “Kita sudah bolak-balik makan steak yang jauh lebih enak dari sug

