*** Aku berdiri, merapikan meja kerja, memastikan semua alat sudah kembali ke tempatnya. Lalu melangkah keluar ruang praktik. Begitu pintu terbuka... aku berhenti. Amanda masih di sana. Duduk di kursi tunggu, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Wajahnya menoleh begitu mendengar suara pintu. Aku mengernyit. “Loh?” Ia tersenyum. “Akang sudah selesai?” Aku mengangguk. “Sudah. Retainer Nda belum jadi?” “Sudah,” jawabnya santai. “Terus?” “Nda tadi nanya suster,” lanjutnya. “Katanya pasien Akang tinggal yang di dalam. Ya sudah… Nda nunggu sebentar.” Bahunya naik-turun singkat. “Lagian tadi masih hujan.” Aku menoleh ke arah pintu kaca di ujung lorong. Pantulannya masih basah. Sisa-sisa hujan yang belum sepenuhnya pergi. Lalu mataku kembali menatapnya. “Aneh,” gumamku sambil duduk di

