BAB 48-2

902 Words

Tepat di teras restoran sebelah, ia berdiri. Erin. Tak sendiri. Ia bersama dua perempuan lain. Salah satunya sedang sibuk memainkan ponsel, satunya lagi tertawa geli atas sesuatu yang Erin katakan. Entah apa yang lucu, padahal ucapan Erin begitu kasar. Tawa perempuan itu mereda, ekspresinya berubah bingung menatapku. Lalu... Erin mengikuti titik pandang temannya tersebut, menoleh dan melihatku. Ia membelalak singkat. Namun setelahnya mengatur air mukanya kembali datar. Dagu sedikit terangkat, angkuh. Kemudian, seringai tipis muncul di wajahnya. Aku tetap diam, tenang, bertekad untuk enggan terusik. Bisa saja aku berpura-pura tak melihat. Bergegas pergi. Atau bersikap seolah tak mengenalnya. Namun, entah kenapa aku justru berpikir jika mungkin saja ada maksud dari perjumpaan yang t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD