BAB 51-2

715 Words

“Papi yang naikin lagi, Ayah.” Aku yang menyahut. Papi melirik tajam ke Ayah. “Ruwet dah, anak bawang ngambek,” timpal Ayah. “Perlu gue telpon Bang Irgi apa?” sahut Papa Ga. Oma pernah bilang, waktu ‘ayah-ayahku’ ini masih kecil, kalau Papi sudah ngambek, tak ada yang bisa membujuknya—kecuali Papa Gi. Mungkin karena meski usianya lebih muda dari Papa Ga dan Ayah, Papi merasa setara dengan mereka. Ego bocahnya jadi lebih menonjol. Ia hanya mau mendengar orang yang lebih tua darinya, tapi bukan yang ‘bapak-bapak’ juga. Dan entah bagaimana, satu-satunya yang memenuhi kriteria itu… cuma Papa Gi. “Nggak usah,” jawab Papi. “Makanya Papi duduknya nyender, biar AC-nya nggak ke muka Papi.” Aku mencoba membujuk. “Udah biarin, Nda... makin ngambek malah panjang urusannya entar,” ujar Papa Ga.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD