Menjelang sore, satu unit V-Class datang menjemput. Setelah berpamitan dan memastikan aku ingat jika kami selalu diawasi, para ayah—termasuk Papi—naik ke mobil tersebut dan pergi lebih dulu. Aku tetap di posisiku sejenak, menunggu hingga MPV itu menjauh, baru kemudian masuk ke SUV-ku. Sore itu, perjalanan singkat ke kampus Amanda jadi terasa lebih lengang. Mungkin karena aku menyetir sendiri. Mungkin juga karena tak ada lagi suara tiga bapak-bapak yang ribut masalah AC. Atau mungkin karena nihil candaan receh khas para pria milenial. Aku sampai di depan fakultas hukum sekitar dua jam sebelum kuliah Amanda selesai. Waktu yang cukup panjang itu kuisi dengan menyelesaikan bacaanku, ditambah menonton beberapa video tindakan. Sampai akhirnya… aku melihatnya. Amanda muncul dari salah satu ko

