“Intens setiap malam?” “Nggak sih, Dok. Cuma... belakangan lebih sering datang. Kayaknya yang Dokter bilang ada benarnya. Mungkin di sini banyak trigger.” Beliau mengangguk. “Selama sebulan kerja di sini, gimana rasanya?” “Pekerjaan, Dok?” “Iya.” “Alhamdulillah… aman, Dok.” “Bikin capek nggak?” “Lumayan, Dok.” “Kita lupain dulu soal mimpi buruk. Dalam kondisi capek, gampang nggak untuk tidur?” Pertanyaan itu… sederhana. Namun justru membuatku berpikir keras. “Bisa, Dok,” jawabku akhirnya. Beliau tak langsung merespons. Hanya menatapku lekat, lalu menyesap tehnya. Aku juga ikut meneguk. “Bisa tidur… atau sekadar memejamkan mata?” tanya beliau lagi. Aku mengerjap. Bedanya memang jelas. Karena dulu, sebelum kejadian itu, aku adalah orang yang bisa tidur di mana saja. Mudah ti

